Rabu, 22 Agustus 2007. Badan gw cape, hidung gw mampet, batuk tidak kunjung berhenti, (Ps. Batuk gw bukan karena hujan, badai dan semacamnya, tapi dikarenakan gw minum milkshake coklat chip seharga Rp. 24.500 yang enak buanget disiang bolong.. but end up bukan sebagai lemak melainkan menjadi “dahak”) namun otak gw butuh banget hiburan.. yah semacam brain storming sedikitlah, makanya gw rada antusias banget ngajakin temen2 gw buat nonton pelem. Tapi ternyata hanya 1 orang yang mampu menjawab tantangan tersebut, hadirin gw persembahkan Ms. Marrysca Lisly.
The Bajaj
Sebagai informasi, bioskop yang kita tuju adalah Djakarta Theater, bioskop ini punya 3 studio tapi kadang rada ajaib karena hanya dengan 3 studio, bioskop ini bisa menampilkan 4 film sekaligus. Aniwei, pelem yang mau kita tonton nanti dijadwalkan akan diputar pada jam 18.45pm dan berhubung ini hari Rabu, diasumsikan crowd yang datang bakalan ga terlalu ramai.
18.00pm, kita langsung menuju tempat mangkal para Bajaj. Dengan sedikit ngotot kita mencoba mendapatkan harga terbaik alias murah. Tawaran kita berpindah dari “abang” yang satu ke “abang” yang lainnya, dan akhirnya pilihan kita jatuh kepada supir Bajaj yang sangat bersedia untuk kita bayar murah yaitu seharga Rp. 10.000,- yuuk bang..
Perjalanan dilalui tidak terlalu mulus. Namun, entah bisa dibilang beruntung atau tidak, the supir dapat melaju dengan sangat CEPAT.. agak menakutkan sedikit, kenapa? Karena lalu lintas saat ini dalam keadaan PADAT!! the Bajaj meraung ditengah kemacetan Jakarta. Salah satu Ciri khas supir bajaj sejati adalah “never give up & keep moving forward”. Hal itu dibuktikan dengan kecepatan yang sama sekali tidak melambat, walaupun kemungkinan untuk lewat Cuma 1%, dan juga ketidak relaannya membiarkan se-inchi-pun berjarak dengan mobil didepannya!! Gilink, mudah2an ga nyenggol mercy dan teman2 nya!!
Ternyata, ga cuma jago nge-tril aja tuh bajaj (duh bahasa gw 90’s banget nih) ternyata the supir dapat dengan mudah mencari jalan tercepat menuju Roma eh Sarinah.. 4 thumbs up, walaupun kita2 yang didalemnya turun dengan dandanan semerawut, rambut kusut, wajah tegang, dan sedikit pengang.
The Movie
Dengan speed seperti itu, tidaklah heran kalo kita sampai di tempat tujuan hanya dalam waktu 30 menit. Setelah merangkai kembali jiwa2 yang sempat terburai selama perjalanan, dengan kaki sedikit gemetar kita mulai menapaki jajaran tangga menuju studio. Sempat deg2an mikirin apakah kita bakal dapat seat yang ok, dan ternyata RATATOUILLE (baca RAT-A-TOO-EE) ga terlalu banyak peminatnya sehingga pemilihan seat.. BEBAS!!
Brief introduction: Film ini bercerita tentang Tikus (remy) yang berkeinginan untuk menjadi koki terkenal. Dan nasib membawanya bertemu dengan Linguini, seorang tukang sampah yang secara tidak sengaja menjadi seorang koki yang patut diperhitungkan dan semua itu berkat bantuan Remy. Perlu diinformasikan bahwa tikus yang bermain dalam film ini memang berakting sebagai tikus. Tidak seperti film animasi yang juga menggunakan tikus sebagai tokoh utamanya berjudul Flused Away, dimana si tikus digambarkan sebagaimana layaknya manusia, berjalan dengan menggunakan 2 kaki, berpakaian lengkap dan parahnya ada juga tikus yang menggunakan kursi roda. Para Tikus dalam film Ratatouille ini, benar2 berperan sebagaimana adanya seekor tikus dan cuma untuk kepentingan para pemirsa, tikus tersebut dapat berbicara.
Bisa dikatakan film ini berakhir dengan sukacita, dimana pada akhirnya Remy bisa mencapai cita2 nya, yaitu menjadi KOKI. Agak sedikit tidak masuk akal, tapi itulah hebatnya kartun.. makes nothing impossible.
The pengamens
Film berdurasi 110 menit ini berakhir pada jam 20.35pm. Saatnya untuk pulang. Seharusnya waktu yang diperlukan tidak terlalu lama, namun dikarenakan hujan deras mengguyur Jakarta sehingga menyebabkan air menggenang dibeberapa ruas jalan sudirman.. kendaraanpun dipacu secara perlahan alias MACET!
Sembari menyusuri trotoar depan Mc Donald, akhirnya kendaraan yang ditunggupun datang. Bis berwarna merah bernomor 640. Lumayan tenang nih, soalnya bis yang gw tumpangin agak ramai, jadi ga terlalu tegang2 banget. Setelah setengah pelajalan melalui jalan MH. Thamrin menuju Gatot Subroto, tiba-tiba masuklah seorang pengamen bertubuh kurus, berbaju ala punkers alias ketats yang mencoba mengais rejeki.
Pada awalnya rada ngeri juga, soalnya nih pengamen kok sama sekali tidak menunjukkan niat untuk nyanyi. Bungkus permen yang akan digunakan untuk menagih uang digigit didalam mulutnya. Tangan kirinya memegang botol yang berisikan beras sedangkan tangan kanannya memegang sebuah kayu dilengkapi dengan tutup botol sehingga ketika digerakkan menimbulkan bunyi-2an yang sungguh tidak harmonis. Maksudnye ape sih nih pengamen??
Tatapan dinginnya mejelajah ke seluruh bagian dari bis yang gw tumpangin.. sempet kepikir buat cari cara untuk melarikan diri!? Duh.. nyanyi juga kaga, malahan ngancem..!! Kasih duit kaga ya? Boleh dibilang ini bukan kali pertama gw pulang malem malahan masih terhitung tidak telalu malam, cuma entah kenapa kok rasa deg2-an plus ngeri mulai menghampiri..
Akhirnya tuh gumaman berhenti.. aneh memang, soalnya hanya si pengamen yang tahu kapan lagunya mulai dan kapan tuh lagu berakhir. Ga ada tuh yang antusias tepuk tangan (ya iya laah..). Gw mulai ngeliat sekeliling, pada ngasi duit kaga ya..? Eh ternyata, ga ada yang ngasi duit..!! Wah, ikyutan dah.. ga bakal gw kasi recehan.. not even a peny Bung! Amazingly, dia lewat dan terus lewat sampai akhirnya turun..!! AMPUN.. cuma segitu doank.. gila!! Maak.. Tuhan mendengar doa ku..
Kisah gw di 640 berakhir didepan halte semanggi hehehe.. dimana gw masih harus berjuang meneruskan perjalan dengan menggunakan bus lain menuju BEKASI yang biasa disebut daerah “kampoeng” oleh my dearest pal marrysca.. siaal..!!
Ps. This is the part where for the first time.. eh apa yang ke second time ya? My father grounded me.. ! Halaaah, kok tumben, well kata maak-ku, “Si Bapak kok berasa ga punya anak perempuan ya selama 2 minggu terakhir ini”.. Lha, pak ko’ tumben? Apa karena gw pulang bare-hand ya alias ga ada oleh2 hehehehe.. Alhasil, pesan-pesan dari Maak ku yang masih terngiang sampai dengan cerita ini ditulis adalah.. “ade.. besok & jumat ga boleh pulang malem”..