Jelajah Kota Toea – The Big 5 Museum
Prologue: Ini merupakan perjalanan “asal” gw sama marrysca lisly (fyi, this gurl are eligible you know, a.k.a High Quality JOMBLO hehehe..). Awalnya sih gara2 iseng liat email dari nyasar dan selain curious dan juga sedikit sadar kalo pengetahuan gw “terbatas” banget perihal museum ama sejarah.. akhire the idea of spending Sunday morning visiting the big 5 museum at OUD BATAVIA truly happen.. and, here’s the quick recap;
Hari ini, tanggal 17 Juni 2007 Komunitas Jelajah Budaya (KJB) kembali mengadakan Jelajah Kota Toea (JKT) dengan tema The Big 5 Museum, yaitu mengunjungi lima museum yang ada dikawasan kota tua Jakarta. Kelima museum tersebut antara lain Museum Bank Mandiri (MBM), Museum Sejarah Jakarta (Museja), Museum Seni Rupa & Keramik, Museum Wayang dan Museum Bank Indonesia (MBI).
Perjalanan kita di awali dari Museum Bank Mandiri, setelah registrasi dan sarapan sepotong Roti Buaya, perjalanan dimulai. Sebelum melangkah keluar alangkah baiknya kita mengetahui sejarah gedung museum Bank Mandiri ini. Bangunan yang sekarang digunakan sebagai museum, mulai dibangun tahun 1929 oleh NHM, perusahaan milik Belanda yang bergerak di bidang perdagangan dan perbankan. Gedung ini diresmikan oleh Dr. C.J.K van Aalst Presiden Nederlandsche Handel Maatshappij (NHM) ke 10. Hal yang cukup menarik dari gedung ini antara lain ornamen kaca patri yang menceritakan empat musim serta tokoh nahkoda kapal Belanda Cornelis de Houtman. Ruang kluis terdapat di lantai dasar yang terbagi dalam tiga ruangan. Pertama surat-surat berharga (efecten kluis), kedua penyimpanan uang (kas kluis), ketiga penyimpanan barang-barang berharga milik nasabah (safe deposit box).
Sekarang perjalanan dilanjutkan menuju Taman Fatahillah, sebelum sampai disana, kita juga akan melihat beberapa gedung tua, diantaranya gedung Nederlandsche Indisch Handel Bank (NIHB) yang kini digunakan oleh Bank Mandiri, Stasiun Beos/ Kota dan Gedung BNI 46. Museum Sejarah Jakarta (stadhuis) adalah bangunan yang dibangun kembali pada tahun 1707 dan diresmikan pada tahun 1710 oleh Gubernur Jendral VOC Abraham van Riebeeck. Saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah. Salah satu koleksi yang cukup menarik adalah meriam Si Jagur yang mempunyai versi cerita menarik, baik mitos maupun fakta sejarah.
O iya guys, Museum ini cukup menarik soalnya kelompok gw tertarik banget ama itu meriam.. katanya kalo cewek2 yang pengen hamil.. silakan pegang2 tuh meriam mudah2an berhasil.. sedangkan pasangannya ada di BANTEN. Disini juga kita bisa ngeliat penjara pria dan wanita.. sumpah guys, bener2 ga manusiawi banget. Ruangannya sempit dan dan pendek.. bener2 pengap. Katanya 1 penjara bisa di diami oleh 20-40 orang.. bisa dibayangin donk.. itulah mengapa katanya sebelum waktunya mereka dihukum.. dah keburu meninggal duluan.Selain intu ada bath tub yang terbuat dari marmer seharga 5 milliar. Selain itu disini juga ada prasasti peringatan tentang penghianatan yang dilakukan oleh bangsa kita kepada VOC. Kabarnya tubuh si penghianat diikat ke badan kuda dan ditarik ke 4 penjuru yang berbeda sehingga tubuhnya terpecah2.. dari situlah awal nama daerah yang sekarang dikenal sebagai Jl. PECAH KULIT.
Sebelah kanan Museja terdapat Museum Seni Rupa & Keramik, yang pada saat itu digunakan sebagai kantor Raad van Justitie oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1870. Inilah satu-satunya museum yang diresmikan dua kali. Pertama pada tahun 1976 oleh presiden Suharto sebagai Museum Seni Rupa, setelah itu pada tahun 1977 kembali diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta sebagai Museum Keramik. Sehingga bila kita berkunjung ke sini akan melihat lukisan berdasarkan periodisasinya, termasuk maha karya dari pelukis Raden Saleh. Sedangkan keramik yang dipamerkan mulai dari kerajaan Majapahit hingga keramik dari mancanegara seperti Eropa dan Cina.
Diseberang museum Seni Rupa & Keramik terdpat satu museum yang pengelolaan masih dibawah Pemda DKI Jakarta. Museum Wayang (De Oude Holandsche Kerk), dan koleksi yang ditampilkan, ya tentu saja wayang. Bukan hanya wayang yang ada di Jawa atau di Nusantara, tapi juga wayang dari berbagai Negara. Sedikit mengenai sejarah gedung, pada mulanya bangunan ini melayani kebutuhan beribadat penduduk yang tinggal di Batavia dan juga untuk pemakaman para pejabat VOC. Gedung yang kini dijadikan museum adalah bangunan yang didirikan pada awal abad ke 20, dan digunakan oleh perusahaan Geo Wehry & Co. Selain wayang kita juga dapat melihat prasasti batu nisan pejabat VOC yang pernah dimakamkan disini.
Satulagi, disini terdapat wayang termahal lho guys.. yaitu WAYANG INTAN. Wayang ini bertahtakan berlian, em lumayan banyak lho tapi yang pastinya yuh berlian bukan berasal dari Tifanni’s & Co.
Nah menuju MBI, kita sempet take a look around di Jalan Pedestrian, ga ada mobil ama motor yang boleh lewat sini. Bagi yang hobi poto2, ni tempat okeh juga.. oldies abies. Disini ada gedung2 tua termasuk gedung Escompto yang ditemboknya terdapat lukisan lambang kota Batavia, Soerabaia, Semarang dan Belanda.
Sebelah Museum Bank Mandiri, kini terdapat Museum Bank Indonesia yang dibuka pada Desember 2006. Dimuseum ini kita bisa melihat koleksi uang (Numismatic), dari zaman kerajaan di nusantara hingga uang yang belum di “potong”. Pengunjung lebih dimanjakan dengan fasilitas touch screen dimana kita bisa mengetahui sejarah Javasche Bank hingga Bank Indonesia melalui layar sentuh. Mengenai sejarah Gedung, pembangunan pertama dilakukan tahun 1909, namun seiring dengan waktu bangunan ini mengalamai perluasan hingga tahun 1937. Gedung ini dirancang oleh arsitek Ed. Cuypers & Hulswit dengan arsitektur Indisch. (disarikan dari berbagai sumber).
Dsini ada juga teathernya lho, dari mulai proses pembuatan ampe pembuangan.. bahkan penyortiran uang yang dapat dilihat dari tingkat kelusuhannya. Museum ini cukup menraik soale ada semacam wahana (deu berasa dufan) dimana terdapat layar setengah lingkaran yang berisikan uang melayang2 dan tiap kali bayangan tangan kita dapat menyentuh salah satu gambar uang tersebut, maka ganbar uang akan diam dan mulai menceritakan awal mula serta sejarah pembuatan uang tersebut.. quite cool isn’t it??
Terus terang, yang paling gw inget dari semua museum adalah MBI , karena “adem’ banget! wuih, dimuseum lain.. panas dan totally hard to breath, sirkulasi udara yang benar-benar ga bersikulasi.. halaah!! Coba aja museum lain bisa sama nyamannya seperti MBI, bukan dari segi teknologi atau gedungnya cause it might end up losing the historical value, but paling ga lebih ditingkatkan dari segi kenyaman pengunjung, contoh terdapat ac yang mencukupi dan bukan sekedar pajangan tapi benar2 hidup. Atau setidaknya kipas angin. Bangku untuk duduk.. jangan Cuma pajangan doing. Soalnyakan sekarang ini banyak juga ibu2 atau keluarha menggunakan museum sebagai sarana wisata dengan anak2nya.. supaya lebih mengenal sejarah Jakarta dengan lebih baik, katanya.
Aniwe, so much for the amazing journey, thanks to KJB and also Lavenda atas kaosnya jejejeje (baca: hehehehehe). Mudah2an bakal ada kesempatan lain buat gw jalan2 kaya gini lagi…
For further information, you guys can send your email to: gerbang_batavia@yahoo.com or join the mailing list instead at jelajahbudaya@yahoogroups.com.