Sebuah Pura Untuk TUHAN
Pusalar membangun Pura
Pusalar hidup di sebuah desa kecil di India Selatan. Ia ingin membangun sebuah pura untuk Tuhan. Lalu ia mulai menggali pondasi di samping pondoknya di ladangnya yang sempit. Setelah beberapa lama, lubang pondasi itu tetap menganga. Pusalar tidak mampu membeli batu bata untuk meneruskan pembangunan pura itu. Ia hampir putus asa. Tiba-tiba pikiran briliyan muncul di benaknya. Ia dapat membangun pura itu di dalam hatinya. Pusalar mulai menggali pondasi di lahan baru itu. Ia mulai pembangunan pura sedikit demi sedikit. Ia memasang bata sehari satu. Ia tidak mau buru-buru menyelesaikan pura itu, sekalipun Ia mampu, karena toh itu semuanya hanya dalam hati. Ia tetap sadar bahwa ia adalah petani miskin. Ia tidak mau neko-neko, walaupun hanya dalam hati. Ia ingin menikmati pekerjaan yang ia persembahkan untuk Tuhan.
Satu hal yang sangat diperhatikan oleh Pusalar dalam membangun pura itu, pintu puranya harus lebar. Agar setiap orang, terutama anak-anak, dapat keluar dan masuk pura dengan nyaman. Dengan demikian, mereka akan senang ke pura. Pusalar berpendapat, setiap orang harus mudah bertemu Tuhan. Sebab Tuhan tidak mempersulit orang yang ingin bertemu denganNya.
Setelah bekerja keras selama satu tahun akhirnya pura itu selesai. Ia merasa lega dan bahagia. Ia bermaksud meresmikan pura itu, melakukan kumba abiseka atau ngenteg linggih. Ia memohon kepada Tuhan: “Ya Tuhan, pura yang ku bangun untuk Mu saudah selesai. Besok saya akan melakukan upacara kumba abiseka. Sudilah kiranya Engkau datang menghadiri upacara yang sederhana itu. Tapi Tuhan, tidak ada orang lain yang akan menyambutMu, kecuali saya. Saya tidak memberitahukan upacara ini kepada siapapun. Bukan apa-apa, saya hanya khawatir mereka akan menertawai saya, karena semua itu hanya ada dalam hatiku.”
Maharaja membangun pura
Entah kebetulan atau tidak, ketika Pusalar mulai membangun pura, Sang Maharaja juga mulai membangun sebuah pura di alun-alun depan istana, di tengah-tengah ibu kota. Pura itu haruslah sebuah pura yang megah, sebagai lambang dari kerajaan yang makmur. Raja mendatangkan arsitek (sthapati), tukang batu dan tukang ukir (silpi) pilihan dari seluruh India. Bahan-bahan, seperti batu bata, marmer, kayu, batu pualam, dipilah yang terbaik dari seluruh negeri. Ketika sudah selesai, pura itu menjadi monumen yang begitu megah dan menganggumkan. Ia merupakan hasil karya seni yang tinggi. Raja memutuskan untuk melakukan upacara kumba abiseka yang besar dan megah. Raja mengundang para duta besar Negara sabahat. Sebuah pesta besar untuk rakyat dipersiapkan. Malam sebelum upacara itu, didalam tidurnya Maharaja didatangi oleh Tuhan.
Tuhan berkata: “kamu harus mengundurkan upacara ngenteg linggih ini sehari!”
Raja kaget: “Tuhan, semua sudah siap, Ada apa?”
Tuhan berkata: “Besok aku akan menghadiri upacara kumba abiseka pura yang dibangun oleh Pusalar. Jadi kamu harus mengundurkan kumba abisekamu satu hari.”
Tuhan lalu menghilang. Maharaja bangun dari tidurnya. Ia kaget dan kecewa. Siapa gerangan Pusalar ini? Aku belum pernah mendengar ada orang lain membangun pura di seluruh wilayah negeri ku. Siapa gerangan Pusalar, sehingga Tuhan harus mendahulukan dia dari pada aku?
Pagi itu juga Maharaja mengadakan sidang paripurna secara mendadak. Agenda sidang hanya satu: hari itu juga ia harus tahu siapa Pusalar dan di mana Ia tinggal. Tengah hari informasi diperoleh. Dan Maharaja berangkat menuju desa di mana Pusalar hidup. Seluruh warga desa kecil itu kaget. Untuk apa raja mengunjungi Pusalar? Ada apa dengan Pusalar? Selama ini tidak ada yang memperdulikan petani miskin itu. Maharaja menghampiri gubuk Pusalar yang sangat sederhana. Pusalar kaget sekali, dan ia segera menyentuh kaki sang Maharaja.
“Dimana Puramu Pusalar?” Maharaja bertanya. Pusalar menjadi sangat malu. Selama ini tidak ada yang tahu mengenai pura itu, karena semua itu hanya ada dalam hatinya saja. Mungkin hanya orang miskin dan bodoh seperti dirinya yang membangun pura dalam hati. Takut ditertawakan oleh penduduk desa yang berkerumun ingin tahu serta para pengiring raja yang penuh waspada, ia mencoba mengingkarinya. Maharaja lalu menceritakan mimpinya. Pusalar kini merasa tidak takut lagi, karena Tuhan mengetahui dan memberkati apa yang ia kerjakan. Pusalar menunjuk dadanya: “Disini Yang Mulia!”.
Mendengar penjelasan Pusalar, Sang Maharaja membungkuk dan menyentuh kaki Pusalar.
Mengapa Tuhan mendahulukan Pusalar dari Maharaja? Pertama, tantangan yang dihadapi Pusalar untuk mendirikan pura demikian besar, namun ia tidak putus asa. Bagi seorang raja, apa susahnya membangun sebuah pura yang besar dan megah? Kedua, ketika Pusalar selesai membangun pura, yang pertama diingatnya adalah Tuhan. Dengan sepenuh hati ia memohon agar Tuhan mau mengunjungi puranya. Dengan kata lain, Ia memohon agar Tuhan memasuki hatinya. Ketika Maharaja selesai membangun pura, yang pertama ada dalam pikirannya adalah, membuat upacara yang besar yang menggambarkan kemegahan, kejayaan dan kekayaan. Dan ia melupakan Tuhan. Dalam keinginan, kemashuran, penghormatan dan kebanggaan diri yang berlebihan, Tuhan memang tidak memiliki tempat.
Membangun pura di atas bumi penting. Tetapi harus dibarengi dengan membangun pura di dalam hati, supaya pura di atas bumi abadi.
"Hindu Akan Ada Selamanya"
-Author: Ngakan Made Madrasuta-