Suplemen Jiwa
Tiba tiba aku menemukan sebuah buku tulis. Buku itu kosong. Sekilas tampak biasa namun ada perasaan rindu untuk berbicara tanpa ada sela.
Tidak seperti biasanya aku menggunakan bahasa “ibu”. Aku lebih memilih dan merasa nyaman ketika menggunakan bahasa asing.
Kadang aku merasa mempunyai masalah dalam berbicara. Entah apakah terlalu banyak sehingga inti dari berbicara jarang aku dapat. Sulit rasanya untuk mengatakan sesuatu secara benar. Dalam arti kata sesuai dengan apa yang kita pikirkan atau rasakan. Banyak perandai-andaian, banyak ungkapan dan banyak kiasan.
Sempat terpikir, buat apa berbicara jika tidak ada yang mengerti bahasa ku, buat apa mengungkapkan rasaku jika tidak ada yang memahami ku. Kadang lelah menerpa ketika aku harus berbicara, lagi, lagi dan lagi.
Di bangku sekolah menengah, aku sering menorehkan sekelumit perjalanan hidupku, pengalaman ku dan kebiasaan itu berlanjut sampai aku melanjutkan ke bangku perkuliahan.
Ketika kata sudah mulai usang, aku mulai membuat bentuk. Aku senang, aku merasa kecepatan tanganku tidak bisa mengimbangi kemauan otakku dalam menulis. Aku menggambarkan perasaan ku.
Lalu tiba suatu saat ketika aku merasa lelah, kesepian dan tidak nyaman dengan kehidupanku. Aku mulai berhenti menulis, aku tidak lagi menggambar. aku benar-benar berhenti.
Aku mulai bosan dengan buku-buku, baik itu sastra sampai komik ringan yang aku beli dengan setengah ngotot hanya untuk mendapatkan harga yang murah. Aku bahkan sudah mulai malas untuk mendatangi bursa buku murah yang merupakan tempat favoritku semasa dulu. Aku benar-benar hilang.
Aku mulai membeli buku secara komersial, suatu kewajiban, dan hanya untuk memenuhi rasa gengsiku akan sebuah sumber pengetahuan. Aku bahkan tidak menyetuhnya. aku tidak mempunyai keinginan untuk menyentuhnya.
Ketika aku merasa bahwa buku adalah suatu beban untuk dibaca, suatu tanggung jawab untuk dimengerti dan sebuah rasa untuk mengabdikannya. Disitulah permulaan kematian jiwa ku, perlahan menguap dan menjadi hilang.
Sampai suatu ketika saat aku melihat film berjudul GIE. Sangat sederhana, dan menyentuh.
Aku tidak akan berbicara masalah politik, pemberontakan atau rusaknya Negara ini, namun aku hanya ingin berbicara makna sebuah rasionalisme, logika serta ketulusan hati dari sebuah tulisan.
Aku aku menikmati bagaimana dia menulis, bagaimana dia membaca dan bagaimana dia mengambil kutipan seadanya lalu kemudian di kembangkan dengan pemikirannya.
Aku mulai mengerti bahwa buku merupakan suplemen bagi jiwa, sebuah rasa dan kenangan atas suatu masa. Buku pun kini aku sebut sebagai bantuan jiwa, sebuah mediator bagi rasa untuk menikmati, naluri untuk bertindak serta otak untuk berpikir.
Tidak selalu diam itu salah dan berbicara itu benar. Keduanya melelahkan, keduanya menyakitkan. Yang dapat aku lakukan adalah berusaha untuk mencari tahu kapan harus diam dan kapan aku harus berbicara.
Saat ini aku merasa sedikit lepas. Ternyata semangat kemerdekaan melintasiku. Bahkan membangunkan saraf otakku.
Aku merasa menang, otakku kembali bekerja dengan semestinya. Dan aku berharap tulisan ku bisa menjadi sebuah awal dari kebangkitan jiwaku
